WhatsApp-Image-2020-04-25-at-12.14.06-770x350

TuWEB UT

 

Tampilan TuWEB via Aplikasi TEAMS

Tutorial WEB Universitas Terbuka merupakan istilah baru untuk menggantikan “Tutorial Tatap Muka”.  Dinamakan demikian karena sejak instruksi pemerintah agar masyarakat melakukan segala sesuatu dari rumah (WFH/SFH), maka Kelas S1 Bidang Ilmu UT-Trampil yang biasanya dilakukan secara Tatap Muka di SMAK Petra Kalianyar, berubah menjadi model pembelajaran berbasis WEB.  Praktis jumlah pertemuan, durasi dan proses pembelajaran juga berubah.  Dari tatap muka dengan segala dinamikanya, mendadak menjadi online dengan batasan-batasan yang disepakati.  Misalnya, microphone harus dinon-aktifkan supaya tidak mengganggu, yang ingin berpendapat perlu diatur, diskusi di chatt/WAG, absensi dilakukan dengan cara screenshot,  dan lain-lain.

Apakah semua pihak siap menyambut perubahan?  Secara umum jelas tidak siap.  Pihak UPBJJ Surabaya yang paling berkepentingan dengan pembelajaran pun harus menunggu keputusan UT Pusat terkait dengan perubahan ini.  Alhasil, kuliah sempat tertunda 2-3 minggu.  Bahkan komunikasi dengan para tutor terkait dengan berkas dan hal-hal teknis masih berjalan sampai sekarang.  Ketidaksiapan makin berasa ketika ada banyak kendala di pertemuan pertama. Mulai mahasiswa kesulitan mengakses link kelas, kendala jaringan, kendala perangkat, paket internet habis, belum terbiasa dengan aplikasi Teams sampai persoalan tutor tidak bisa melihat mahasiswa selama fitur share screen pada fungsi slideshow ppt dijalankan. Bahkan ada satu tutor yang mundur sebelum pertemuan pertama karena merasa tidak sanggup bila mengajar secara online, “biar yang muda-muda saja. Saya tidak bisa”, demikian komen beliau d grup tutor UT Surabaya.

Mahasiswa juga mengalami persoalan yang kurang lebih sama.   “Saya orangnya gak terlalu update pak soal teknologi.  Bingung waktu harus tuweb,” kata salah satu mahasiswa TR 19.2. Komentar yang senada juga disampaikan rekan lain, “terpaksa saya harus belajar pak,supaya gak tertinggal”.  Pendapat berbeda disampaikan salah satu mahasiswa TR 20.1, “kami di sekolah sudah biasa pakai pak.  Jadi tinggal menyesuaikan saja”. Namun ada juga mempersoalkannya dari segi biaya, “seminggu ini saya banyak pengeluaran pak untuk beli paketan”, keluh salah seorang mahasiswa TR 19.1.  Semua respons menunjukkan hal yang wajar terkait dengan perubahan yang serba mendadak.

Tampilan Materi & Diskusi

Pengalaman di atas mengingatkan  bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta penerapannya adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak.  Cepat atau lambat, semua lini kehidupan pasti akan bersentuhan dengan teknologi.  Kapan waktunya?  Tidak tahu.  Yang penting ada semangat untuk terus belajar mengembangkan ketrampilan diri sebagai pendidik dengan memanfaatkan kemajuan yang ada.  Sejauh mana kita harus mengikuti perkembangan?  Tidakkah yang ada cukup bagi pendidikan.  Kiranya pendapat Tuhan Yesus dalam versi berbeda,dapat menjadi rujukan jawaban, “Teknologi diciptakan untuk manusia atau manusia diciptakan untuk teknologi?” (Nggim/Mei 2020)

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
shares