WhatsApp-Image-2020-07-07-at-20.07.41

ALLAH YANG MENUMBUHKAN

Bukit Wariding, Waingapu, NTT

Saya suka tanaman dan menikmati suasana dekat dengan tanaman. Berasa segar, lega, dan menenangkan. Tapi bukan penanam yang baik. Beberapa kali mencoba menanam, kebayakan tidak berhasil gagal. Saya coba lagi, hasilnya sama. Tanaman kering, tidak tumbuh dan mati. Entahlah mengapa kok seperti itu. Apa iya tangan saya kurang dingin? Yang pasti, saya jadi enggan mencoba lagi menanam. Cukup menjadi penikmat keindahan dan aroma tanaman.

Pengalaman yang “enggan” itu sempat terlintas ketika melakukan kunjungan ke beberapa daerah, khususnya di wilayah Timur Indonesia. Keengganan bukan pada tugas mengajar atau mendengar keluhan mahasiswa, tetapi seolah enggan berharap begitu melihat kondisi dan tantangan para mahasiswa di Sumba. Jarak rumah yang sangat jauh dari ICT, transportasi mahal, kesederhanaan sarana penunjang belajar dan faktor ekonomi yang juga tidak mudah. Seorang fasilitator pernah menceritakan, ada banyak mahasiswa yang datang dari tempat jauh untuk belajar, tanpa bekal makanan. Bukan karena lupa, tapi hal itu dilakukan utk menghemat pengeluaran. Maklum gaji mereka sebagai guru honor hanya 50 ribu perbulan. Itupun biasanya dirapel. Malah ada juga yang tidak dibayar.

Bukankah utk belajar butuh energi! Apakah mereka sanggup? Apakah benar mereka bisa mengalami transformasi diri melalui pendidikan? Tidakkah keadaan yang serba terbatas justru akan menjadi penghalang terbesar transformasi itu sendiri? Tidakkah kita sedang memberi cita-cita yang seolah terlalu besar utk diraih? Ada banyak pertanyaan lain yg membuat saya enggan berharap, lelah, dan akhirnya tertidur tanpa jawaban. Berharap begitu bangun, semua pertanyaan itu sudah terjawab. Tidak! Justru Tuhan memberi kesempatan saya pengalaman dan perenungan di setiap perjumpaan dengan para mahasiswa di daerah.

Menghadapi mahasiswa secara langsung membuat saya seolah bertaruh dengan diri saya sendiri. Tegas tanpa kompromi dalam kebijakan Program#1, atau berusaha mengakomodasi kesulitan hidup mereka; yang penting mereka tetap bisa belajar dan mengalami transformasi diri. Tidak selalu ideal yang terjadi. Ada kalanya saya harus tega melepas mereka dari program. Itu berarti, saya seolah melepas lentera pengetahuan bagi seorang murid yang sedang menanti kehadiran gurunya. Tidak mudah, tapi tetap harus dikatakan, sembari berpesan melalui fasilitator agar mereka tetap menjadi guru. Saya merasa belum berbuat banyak bagi rekan-rekan guru di daerah; sementara ada banyak kebutuhan. Jujur, di sinilah saya seringkali merasa sedih….

Namun, Tuhan tidak membiarkan kesedihan itu berlanjut. Keengganan untuk berani berharap Tuhan jawab melalui rangkaian INAGURASI sepanjang tahun 2018/2019. Jabatan tangan dan uraian air mata sembari berucap, “terimakasih Trampil sudah menolong kami” membuat saya luruh dari keengganan itu. Pengakuan “pak saya tidak pernah terpikir bisa kuliah. Tapi saya bersyukur melalui Trampil, saya bisa kuliah dan menjadi guru” menjadi penghibur, sekaligus penegur pergumulan batin saya selaku Koordinator Program. Bukan kamu atau Trampil, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1Kor3:6-9). Jabatan erat dan tangisan itu menjadi simbol bagaimana Allah sendiri yang membentuk mereka di tengah keterbatasan yang ada. Allah yang memampukan mereka melewati masa studi hingga bisa menjadi guru yang memenuhi syarat formal. Ya, jabat erat dan air mata mereka meyakinkanku bahwa Allah hadir dan berkarya dalam hidup mereka. Kehadiran-Nya membebaskan mereka. Kebenaran itulah yang juga menghapus keenggananku. Ah….masih banyak pengalaman manis yang mestinya bisa dituangkan di sini.

Bersyukur kepada Tuhan yang melalui Trampil, saya diberi kesempatan belajar menjadi penanam. Keengganan sesungguhnya menjadi bagian pergumulan manusiawi ketika melihat tantangan keadaan mahasiswa yang seolah terlihat jauh lebih besar dari apa yang saya/Trampil pikirkan. Tuhan menegur, menghibur dan membangun harap utk melanjutkan karya-Nya. Di sinilah indahnya, sembari menanti transformasi , Allah pun mentransformasi diri saya. Transformasi yang dikerjakan Allah tidak bisa dihalangi oleh keadaan dan kekuatiran manusia. Trampil yang menanam, saya yang menyiram, tapi Allah dengan kekuatan kasih-Nya yang menumbuhkan.

Terimakasih utk Yayasan Trampil Indonesia yang telah memberi kesempatan saya melayani dari 2014-2020. Terimakasih kasih juga utk semua rekan fasilitator dan mahasiswa di ICT: Magelang, Sragen, Surabaya I/II, Malang, Lumajang, Gilimanuk, Pontianak, Makale Tana Toraja, Tagari Ratepao, Waikabubak, Sobawawi, Waibakul, Waingapu, Kupang, Soe, Sentani dan Biak, yang secara bersama telah menjadi alat Tuhan utk mentransformasi saya: belajar mengatasi keengganan dengan tetap menjadi penanam/penyiram. Salam dari saya. Tuhan Yesus memberkati (MINGGUS)

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
shares